Bandara Internasional Banyuwangi adalah salah satu bandara dengan arsitektur unik di Indonesia. Bandara ini dibangun pada 2008 dan di resmikan pada tahun 2010. Bandara ini di desain oleh arsitek ternama yaitu Andra Martin. Mengusung konsep Green Airport, bandara ini menjadi bandara pertama yang mengusung konsep Green Airport atau Bandara Hijau.
Bandara Internasional Banyuwangi tampil beda dengan menggunakan gaya arsitektur "Neo-vernakular", menggabungkan elemen tradisional dengan teknik modern. Atap bandara ini terinspirasi dari Udeng atau ikat kepala suku Osing dan juga rumah Osing. Material yang digunakan pada bandara ini cukup simpel seperti kayu ulin yang berfungsi sebagai shading device untuk menghalau panas matahari sekaligus menjadi jalur penghawaan alami. Bagian atapnya menggunakan rumput gajah mini sebagai penahan panas guna menjaga ruangan tetap sejuk. Selain itu, penggunaan batu lempeng lokal pada dinding dan ornamen kayu jati bermotif Gajah Oling semakin memperkuat karakter arsitektur Neo-vernakular.
Kesuksesan memadukan budaya dan desain ramah lingkungan ini membuat Bandara Banyuwangi meraih penghargaan dunia Aga Khan Award for Architecture 2022. Pencapaian ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu bangunan paling ikonik yang membuktikan bahwa bandara modern bisa tetap tampil unik, memiliki jiwa lokal, dan selaras dengan alam.





