Jakarta, – Kafe Tanatap Coffee Matraman kembali menjadi sorotan publik, bukan hanya karena menu kopi dan suasananya, tetapi juga pendekatan arsitektur yang dinilai inovatif dan berbeda dari kafe pada umumnya di ibu kota.
Dirancang oleh firma arsitektur RAD+ar, Tanatap Matraman mengusung konsep “coffee garden”, yaitu ruang komersial yang menyatu dengan lanskap hijau. Pendekatan ini menjadikan bangunan bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan bagian dari pengalaman ruang yang lebih luas.
Mengaburkan Batas Ruang dalam Arsitektur Kafe
Konsep utama yang diusung adalah menghilangkan batas tegas antara area indoor dan outdoor. Alih-alih menggunakan dinding masif, Tanatap memanfaatkan bukaan besar, struktur terbuka, serta vegetasi sebagai elemen dominan.
Desain ini memungkinkan pengunjung merasakan suasana taman meskipun berada di tengah kota. Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan tren arsitektur urban yang semakin mengarah pada integrasi ruang hijau dalam bangunan komersial.
Struktur “Frame” Jadi Daya Tarik Visual
Salah satu elemen paling mencolok adalah bentuk bangunan yang menyerupai bingkai raksasa. Struktur ini dirancang untuk mengarahkan pandangan pengunjung ke area taman di sekitarnya, menciptakan pengalaman visual yang dramatis sekaligus estetis.
Material seperti kaca transparan dan elemen struktural berbentuk organik memperkuat kesan modern sekaligus eksperimental. Tidak sedikit pengunjung yang menjadikan area ini sebagai spot fotografi karena tampilannya yang ikonik.
Tata Ruang Amfiteater Dorong Interaksi Sosial
Dari sisi tata ruang, Tanatap menghadirkan konsep amfiteater pada area duduk. Susunan bertingkat ini memungkinkan pengunjung memiliki sudut pandang luas ke pusat ruang yang dipenuhi elemen hijau.
Selain memperkuat pengalaman visual, desain ini juga dinilai mendorong interaksi sosial antar pengunjung, menjadikan kafe sebagai ruang komunal yang lebih hidup dibandingkan konsep kafe konvensional.
Adaptasi Iklim Tropis Lewat Desain Pasif
Tidak hanya fokus pada estetika, bangunan ini juga mengedepankan aspek keberlanjutan. Bukaan besar dan bentuk struktur dirancang untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami, sehingga mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan.
Pendekatan ini dinilai sebagai langkah adaptif terhadap iklim tropis Indonesia, sekaligus mencerminkan tren arsitektur ramah lingkungan yang semakin berkembang.
Ikon Baru Kafe Berbasis Desain di Jakarta
Kehadiran Tanatap Matraman memperkuat tren kafe berbasis pengalaman desain di Jakarta, di mana arsitektur menjadi nilai jual utama selain produk yang ditawarkan.
Dengan perpaduan konsep tropis dan futuristik, Tanatap tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga destinasi visual yang menarik perhatian masyarakat urban, khususnya generasi muda.
Penutup
Melalui pendekatan arsitektur yang inovatif, Tanatap Coffee Matraman menunjukkan bahwa desain ruang memiliki peran penting dalam menciptakan daya tarik sebuah kafe. Tidak heran jika tempat ini terus ramai dikunjungi dan menjadi referensi baru dalam pengembangan ruang komersial di perkotaan.


